Pages

Subscribe:

Minggu, 22 Juli 2012

Toleransi Oh Toleransi

Twitter itu sungguh sebuah dunia kecil bagi saya, banyak yg saya pelajari dengan hanya membaca tweet2 yg beredar di Time Line. Saya bisa mengenal berbagai macam karakter seseorang dari tweet2 mereka, ada yang cool, kalem, santun, lebay, alay, lucu, bijak dan yg sok bijak.

Saya tiba-tiba tertarik dengan beberapa tweet yang isinya sebagian menuntut adanya toleransi. Yang bisa saya tarik kesimpulan menurut mereka adalah tidak mengganggu privasi mereka.

Kemudian saya mencoba berteori, walaupun hanya teori bodoh yang bisa saja salah dan menuai kontroversi. Well, saya akan memberikan contoh diri saya sendiri dalam teori ini.

Saya adalah seorang perokok aktif yang dalam keseharian sering menemukan masalah dengan kebiasaan saya yaitu adanya SMOKING dan NON SMOKING area saat saya sedang berada di mal ataupun restoran.

Teori saya tentang toleransi adalah demikian:
"Adalah konyol (kalau tidak boleh dibilang bodoh) jika saya memasuki ruangan NON SMOKING yg dipenuhi non smoker kemudian saya merokok dengan harapan bahwa para non smoker itu mau bertoleransi dengan membiarkan saya merokok di area mereka, mungkin bukan hanya toleransi yg tidak saya dapatkan, tapi saya yakin mereka akan segera mengusir saya dari ruangan itu. Jika kemudian saya berkoar koar bahwa mereka tidak punya rasa toleransi maka mungkin saya akan dicap sebagai orang gila bukan?"

"Dan lebih terlihat aneh lagi jika ada seorang yg bukan perokok masuk ke dalam SMOKING AREA yg penuh dengan orang2 yg sedang merokok kemudian menyuruh orang2 tersebut untuk berhenti merokok dan berharap para perokok ini menunjukkan toleransi mereka kepada orang yg bukan perokok (dalam hal ini non smoker yg masuk ke SMOKING AREA)

Saya berkesimpulan bahwa toleransi itu bukanlah dari apa yg bisa dimaklumkan, tetapi lebih kepada siapa seharusnya yg memaklumkan. Dan sebagaimana contoh di atas, yang seharusnya bertoleransi itu adalah saya dengan cara menahan hasrat saya untuk merokok. Atau kalau toleransi saya sudah tidak bisa dilaksanakan maka saya akan mencari tempat dimana saya tidak mengganggu orang orang di sekitar.
Demikian juga dengan non smoker itu, dialah yg seharusnya bertoleransi kepada para perokok karena dia berada di lingkungan para perokok, jika mengharap para perokok itu bertoleransi padanya, maka dia sudah menerapkan toleransi yg salah kaprah!

Itulah teori saya tentang TOLERANSI. Mudah mudahan saya bisa lebih bijak dalam menyikapi sebuah perbedaan. Karena jika disikapi dengan arif, maka perbedaan itu sesungguhnya adalah indah!

Terimakasih.

0 komentar:

Posting Komentar